Kecurangan dalam US dan UN Bom Waktu bagi Gagalnya Pencerdasan Bangsa


Menteri Pendidikan Muhamad Nuh dalam wejangannya tentang Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah (US) SLTP-SLTA mengingatkan para penyelenggara ujian dengan mengatakan, “Sebaiknya nilai ujian nasional yang diraih siswa tidak minimal sehingga nilai ujian sekolah yang harus dicapai siswa tidak terlalu besar untuk meraih kelulusan” (Kompas, 31-12-2010, hal. 12).

Peringatan dari Menpen ini, pada hemat penulis tersirat harapan-harapan berikut. Pertama, siswa harus dipersiapkan sungguh-sungguh oleh sekolah sehingga dapat meraih prestasi maksimal dalam UN. Kedua, nilai US tidak dimanipulasi untuk kelulusan siswa. Ketiga, soal-soal UN dan US tidak dibocorkan oleh sekolah atau lembaga lain untuk meraih kelulusan semu.

Problem Evaluasi

UN setiap tahun, selalu dihiasi dengan kecurangan-kecurangan. Sering kecurangan ini secara sengaja dilakukan oleh pihak sekolah, siswa, atau pihak lain yang berkepentingan. Pada April 2011 ini akan dilangsungkan US dan UN. Karena itu, lewat tulisan ini, kami mau menggugah semua komponen pendidikan untuk mawas diri, bertindak objektif, dan jujur dalam pelaksanaan US dan UN ini.

Kita berkeyakinan bahwa dari hasil US dan UN yang terpercaya, kita akan mendapatkan siswa yang berprestasi tinggi, sekaligus sebagai modal dasar pemberadaban bangsa. Prestasi seorang siswa baru akan membanggakan kalau evaluasi pembelajaran pada segala tahapan dilakukan secara bermartabat oleh guru maupun oleh sekolah. Kecurangan yang dilakukan pada evaluasi merupakan bentuk ‘pelaknatan’ terhadap pendidikan. Atau tepatnya bom waktu bagi gagalnya pencerdasan bangsa.

Ada banyak kritik tentang mutu evaluasi pendidikan kita. Misalnya. Almarhum J. Drost, SJ, lulusan ITB dan mantan Kepala SMA Kanisius Jakarta, mengatakan bahwa “UN itu KKN”. J. Drost melihat bahwa UN itu bukan sekedar siswa menyelesaikan tiga tahun belajar. Tetapi UN adalah “apakah kelulusan SMA telah mencapai hochschulreife yaitu kematangan emosional dan intelektual untuk memulai studi akademis di universitas” (2006: 83-84). Mengacu pada kritik ini clan dikaitkan dengan ujian yang penuh kecurangan baik dilakukan oleh siswa, sekolah (langsung), pun pemerintahan (tak langsung) sebenarnya kita `memerkosa’ kematangan siswa yang mau masuk ke Perguruan Tinggi (PT). Supaya siswa kita matang ke PT, maka sistem `pengendalian standar mutu’ penilaian yang sudah ada ini harus dijaga bersama.

Selama kurang lebih 30 tahun menjadi guru, saya memiliki pengalaman positif dan krusial dengan pekerjaan mengevaluasi yang dilakukan oleh para guru dan sekolah. Ada guru dan sekolah yang sangat terampil, objektif, jujur, memroses pembelajaran dan evaluasi, sehingga siswa secara objektif memastikan potensi yang dimilikinya. Tetapi ada sekolah dan guru yang acak-acakan, tidak objektif, tidak jujur memroses pembelajaran dan evaluasi siswanya.

Masalah evaluasi yang krusial yang acapkali dilakukan oleh guru dan sekolah boleh kami ke tengahkan di sini. Dalam kenyataan guru sering tidak memeriksa pekerjaan siswa dengan aneka alasan. Guru atau sekolah kadang membocorkan soal ujian atau memberikan kunci jawaban kepada siswanya. Guru dan sekolah menyusun soal terlalu mudah sehingga semua anak mendapatkan nilai tinggi. Ada guru yang merasa kasihan kepada siswa, sehingga tanpa akal sehat memberikan nilai kepada siswa tersebut, meskipun bukan haknya. Guru dan sekolah sering membiarkan siswa mencontek tanpa menegurnya.

Kecurangan lain sering dilakukan oleh dinas pendidikan dan orang tua. Dinas pendidikan kadang ikut-ikutan mengizinkan sekolah untuk membocorkan soal ujian, memberikan kunci soal, atau mengizinkan siswa-siswa saling mencontek saat ujian. Orang tua tertentu pun sering menyogok guru, sekolah, dinas pendidikan agar memberikan nilai yang tinggi kepada anaknya agar dapat masuk ke perguruan tinggi ternama.

Bila kita melihat kualitas kecurangan yang dilakukan di atas sangat mendasar. Kecurangan tersebut merupakan perwujudan dari model perilaku inhuman (tak manusiawi) yang secara sadar mau memerosotkan akhlak manusia muda. Pemrosotan ini tampaknya sudah membudaya, karena dilakukan dengan sadar atau tahu dan mau. Keadaan ini merupakan bom waktu yang bakal meledak dan menghancur pendidikan karakter bangsa.

Rendahnya Martabat US dan UN Kita

Dari problem yang ditunjukkan di atas, jelas terlihat bahwa martabat ujian di sekolah-sekolah kita amat memprihatinkan. Keadaan ini disebabkan oleh hal-hal berikut ini. Pertama, sekolah sudah menjadi ‘barang komersial’ (moralitas pendidikan dan pengajaran amburadul), ijazah lebih penting dari kecerdasan (ijazah dulu baru ilmu). Kedua, komponen yang mengusung sekolah (Kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (DPPO)) sudah tidak malu-malu ‘melacurkan’ moralitas sekolah demi prestise, nama, gengsi, dan uang. Ketiga, pengawasan dan monitoring dilakukan secara ABS (Asal Bapak Senang) masih sangat kuat dilakukan di tingkat sekolah pun tingkat pemerintah setempat sehingga mematikan objektivitas.

Bila hal ini yang diinginkan oleh komponen penentu dalam sekolah ini, maka kita serta merta tengah meruntuhkan pendidikan nilai atau akhlak anak bangsa kita. Alm. Prof. Nurcholis Madjid sangat menekankan pendidikan nilai. Akhlak adalah segala-galanya. Karena itu, meruntuhkan martabat ujian sama artinya dengan menghancurkan pendidikan akhlak. Dengan merusak pendidikan akhlak, maka apa yang diharapkan Nurcholis seperti: silahturrahmi (pertalian cinta kasih antara sesama manusia), persaudaraan (ukhuwah), persamaan (al-musawah), adil, (seimbang atau balance), baik sangka (husm-u’zh-zhann), rendah hati (tawadlu), tepat janji (alwafa), lapang dada (insyirah); dapat dipercaya (amanah), perwira (‘iffah atau la’affuf), hemat (qawamiyah), dan dermawan (2003: xviii-xxi) akan menjadi sia-sia.

Upaya Menyehatkan Evaluasi

Keberhasilan seorang siswa dalam menempuh jenjang pendidikan tertentu amat dipengaruhi oleh penilaian yang objektif, jujur dari guru, sekolah, terhadap proses dan hasil belajar (kognitif, afeksi, psikomotor) siswa. Berhubung evaluasi pembelajaran merupakan data konkret untuk menentukan cerdas dan lulus tidaknya seorang siswa, maka evaluasi, baik materi ujian, pengawasan, pemeriksaan ujian harus dilakukan secara objektif.

Supaya siswa itu tumbuh menjadi lulusan yang manusiawi, maka penyelenggaraan evaluasi pun harus manusiawi. Dalam arti tidak direcoki oleh urusan yang nonpedagogis seperti pembocoran soal, pemberian kunci pada siswa, mencontek, atau dicontekkan oleh sekolah atau guru. Untuk menyehatkan evaluasi pendidikan. Pertama, menyehatkan penanggung jawab lembaga pendidikan (Dinas PPO dan Yayasan-yayasan). Para penanggung jawab ini harus mampu, tegas dan secara berwibawa mewujudkan nilai-nilai luhur, tujuan, hakekat, moral pendidikan dan pengajaran. Kedua, menyehatkan tenaga pendidik (kepala sekolah, guru,) dan tenaga kependidikan untuk profesional dalam mendidik, mengajar dan memiliki etika profesi yang terpuji. Guru harus menguasai teknik evaluasi yang benar dan tepat, tetapi paling utama guru harus memiliki kejujuran, etika yang pantas dalam menjaga kerahasiaan soal-soal ujian. Bila semua guru bertekad dan serius melaksanakan evaluasi secara benar, tepat, dan jujur, maka siswa-siswa kita akan bertekad untuk meningkatkan potensi yang mereka miliki secaira maksimal.

Lewat dan dalam evaluasi yang bermartabat, bukan saja kemampuan intelektual siswa yang terasah, tetapi kepribadian, moral, serta harga diri siswa semakin meningkat tajam. Bila guru, sekolah ‘terlalu murah’, atau ‘curang’ memberi nilai, maka komponen pendidikan ini mau dengan terang-terangan merusak daya juang, kepribadian dan moralitas siswa.

Secara moral dikatakan bahwa bila orang tua, guru, para pemuka pendidikan merusak moral anak-anak dibawah umur merupakan ‘suatu kekejian’. Di sini orang yang lebih tua, guru secara langsung merusak hati nurani siswa. Dari sudut kemutlakan pembentukan suara hati dikatakan bahwa “dicontekkan, mencontek, atau bertindak tidak jujur” dalam ujian, baik dilakukan oleh guru atau siswa, atau lembaga apapun merupakan bentuk penyelewengan terhadap kewajiban asasi manusia. “Jangan mencontek, jangan memberitahukan kunci jawaban kepada siswa” merupakan perintah moral. Hal ini harus dijalankan oleh siswa, pun oleh guru. Keadaan ini sama dengan pernyataan “jangan berbohong”. Pernyataan ini mutlak dilaksanakan. Menurut Immnuel Kant, kebenaran moral seperti jangan berbohong’ tidak untuk didiskusikan tetapi dilakukan sehingga tercipta tatanan moral yang benar.

Penutup

Kecurangan yang dilakukan oleh komponen pendidikan harus dicabut sampai ke akar-akarnya. Karena kecurangan akan menggelapkan nurani bangsa ini menjadi bangsa tak beradab atau setingkat binatang. Bangsa cerdas akan melakukan sesuatu dengan cerdas. Di sana unsur akal, nurani, spiritual secara seimbang dikoordinasi untuk kemajuan peradaban bangsa. Kecurangan dalam US dan UN adalah bom waktu yang siap meledak dan menggagalkan pembangunan, intelek, kepribadian, dan akhlak. Siapa yang berjuang untuk melakukan kecurangan pada saat siswa-siswa ujian, mereka adalah silent killer (pembunuh berrdarah dingin) yang amat kejam membantai kerakter anak bangsa secara sadistis.

Sumber : Harian Analisa

One response

  1. peri kecil

    betul-betul-betul

    kalo mang mau mendidik jangan membodohi anak

    April 15, 2011 at 12:39 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s